Digital Marketing 05 December 2023

Apa Itu Lead Generation dan Bagaimana Cara Kerjanya dalam Digital Marketing

Ditulis oleh Khairil Fajrin
17 Menit Baca

Tidak semua orang yang mengunjungi website atau melihat konten bisnis siap melakukan pembelian. Sebagian baru mengenal merek, sebagian masih mencari informasi, dan sebagian lainnya mulai mempertimbangkan produk atau layanan yang ditawarkan. Bisnis perlu memahami perbedaan kondisi tersebut agar bisa menentukan cara yang tepat untuk menjangkau calon pelanggan.

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam digital marketing adalah lead generation. Strategi ini membantu bisnis menarik orang yang berpotensi membutuhkan produk atau layanan, lalu mendorong mereka menunjukkan ketertarikan melalui tindakan yang dapat ditindaklanjuti.

Namun, mendapatkan banyak pengunjung belum tentu berarti berhasil memperoleh calon pelanggan. Bisnis juga perlu memahami siapa audiensnya, informasi apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mengarahkan ketertarikan tersebut ke langkah berikutnya. Lalu, apa itu lead generation, bagaimana prosesnya bekerja, dan strategi apa yang bisa digunakan untuk menerapkannya?

Apa Itu Lead Generation?

Pengertian Lead Generation dalam Digital Marketing

Lead generation adalah proses menarik orang yang berpotensi membutuhkan produk atau layanan, kemudian mendorong mereka menunjukkan ketertarikan agar dapat dikenali sebagai calon pelanggan. Dalam digital marketing, proses ini dapat dilakukan melalui website, mesin pencari, media sosial, iklan digital, email, dan berbagai kanal online lainnya.

Bentuk ketertarikan yang ditunjukkan bisa berbeda-beda, tergantung pada model bisnis dan tujuan kampanye. Seseorang dapat mengisi formulir permintaan informasi, mendaftar webinar, mengunduh panduan, meminta penawaran, atau menghubungi bisnis untuk menanyakan layanan.

Misalnya, sebuah bisnis menyediakan jasa pengelolaan media sosial dan menerbitkan konten tentang cara menyusun strategi konten yang konsisten. Konten tersebut dapat menarik pemilik usaha yang membutuhkan bantuan mengelola media sosial. Ketika seseorang kemudian mengisi formulir untuk meminta informasi layanan, bisnis memperoleh calon pelanggan yang dapat ditindaklanjuti.

Meski demikian, tidak setiap orang yang melihat konten atau mengunjungi website otomatis menjadi lead. Pengunjung baru dapat dikategorikan sebagai lead ketika memenuhi kriteria yang ditetapkan bisnis, misalnya telah memberikan informasi kontak atau melakukan tindakan yang menunjukkan minat dan memungkinkan tindak lanjut.

Perbedaan Lead, Traffic, dan Customer

lead generation - perbedaan lead, traffic, dan customer

Istilah lead, traffic, dan customer sering muncul dalam pembahasan digital marketing. Ketiganya saling berkaitan, tetapi memiliki arti yang berbeda.

  • Traffic: kunjungan atau aktivitas audiens yang mengakses website maupun halaman digital. Traffic menunjukkan adanya pengunjung, tetapi belum tentu mengungkap siapa mereka atau apakah mereka tertarik pada penawaran bisnis.
  • Lead: calon pelanggan yang telah menunjukkan ketertarikan dan memenuhi kriteria tertentu sehingga bisnis dapat melakukan tindak lanjut. Bentuknya bisa berupa orang yang mengisi formulir, meminta informasi, atau mendaftar melalui kanal yang disediakan.
  • Customer: orang atau organisasi yang sudah menjadi pelanggan karena telah membeli atau menggunakan produk maupun layanan bisnis.

Sebagai contoh, seseorang menemukan artikel melalui Google, mengunjungi website, lalu mengisi formulir untuk meminta informasi layanan. Pada tahap tersebut, ia dapat menjadi lead. Jika kemudian memutuskan membeli layanan, barulah ia menjadi customer.

Alur ini tidak selalu berlangsung secara langsung. Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan, sementara pengunjung lainnya mungkin tidak pernah melanjutkan ke tahap berikutnya. Karena itu, bisnis perlu menilai hasil setiap tahap, bukan hanya mengandalkan jumlah traffic.

Apa Fungsi dan Manfaat Lead Generation bagi Bisnis?

Lead generation membantu bisnis menghubungkan aktivitas pemasaran dengan peluang memperoleh pelanggan. Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin data kontak, melainkan menjangkau orang yang memiliki kebutuhan relevan dan memberikan jalur bagi mereka untuk melanjutkan interaksi dengan bisnis.

Beberapa manfaatnya antara lain:

Menjangkau calon pelanggan yang relevan. Dengan memahami kebutuhan audiens dan menentukan sasaran yang sesuai, bisnis dapat menyusun konten atau penawaran yang lebih dekat dengan masalah calon pelanggan. Hal ini membantu aktivitas pemasaran menjadi lebih terarah.

Membuka peluang komunikasi lanjutan. Ketika seseorang memberikan informasi kontak atau meminta informasi, bisnis memiliki kesempatan untuk menindaklanjuti ketertarikannya. Komunikasi perlu tetap relevan, tidak berlebihan, dan memperhatikan izin serta ketentuan yang berlaku.

Memahami kebutuhan calon pelanggan. Respons terhadap formulir, pertanyaan yang masuk, dan jenis konten yang menarik perhatian dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan audiens. Informasi tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki pesan pemasaran dan penawaran.

Mengevaluasi aktivitas pemasaran. Bisnis dapat membandingkan hasil dari berbagai kanal, menilai relevansi calon pelanggan yang diperoleh, dan menghitung biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan leads.

Manfaat tersebut tidak berarti semua leads akan berujung pada transaksi. Hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh kesesuaian kebutuhan, kualitas penawaran, harga, kepercayaan, serta pengalaman calon pelanggan ketika berinteraksi dengan bisnis.

Bagaimana Proses Lead Generation Bekerja?

lead generation - 4 tahap lead generation

Proses lead generation umumnya dimulai dengan menarik perhatian audiens yang relevan, lalu menyediakan alasan bagi mereka untuk menunjukkan ketertarikan. Setelah informasi atau permintaan diperoleh, bisnis dapat melakukan tindak lanjut sesuai kebutuhan calon pelanggan.

1. Menarik Audiens yang Relevan

Tahap pertama adalah menjangkau orang yang berpotensi membutuhkan produk atau layanan. Bisnis dapat menggunakan artikel SEO, konten media sosial, iklan digital, maupun kanal online lain yang sesuai dengan karakter audiensnya.

Sebagai contoh, bisnis yang menyediakan jasa pembuatan website dapat menerbitkan artikel tentang tanda-tanda website bisnis perlu diperbaiki. Topik tersebut berpotensi menarik pemilik usaha yang sedang menghadapi masalah dengan website mereka.

Agar tahap ini berjalan lebih terarah, bisnis perlu memahami siapa target audiensnya, apa masalah yang mereka hadapi, dan bagaimana mereka mencari solusi. Panduan tentang cara menentukan target audience dapat membantu proses tersebut.

2. Menawarkan Informasi atau Nilai yang Dibutuhkan

Setelah menarik perhatian audiens, bisnis perlu menyediakan informasi, manfaat, atau penawaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tujuannya agar audiens memiliki alasan untuk mengambil langkah berikutnya.

Bentuk penawaran dapat disesuaikan dengan model bisnis. Bisnis jasa, misalnya, dapat menyediakan konsultasi awal atau estimasi kebutuhan. Sementara itu, bisnis yang menyasar audiens edukasi dapat menawarkan panduan, template, atau webinar yang relevan dengan topik konten.

Materi seperti panduan atau template yang diberikan sebagai imbalan atas tindakan tertentu sering disebut lead magnet. Lead magnet merupakan salah satu cara mendukung lead generation, bukan istilah lain untuk seluruh prosesnya.

Penawaran harus benar-benar memberikan nilai yang dijanjikan. Jika bisnis menawarkan panduan gratis, misalnya, isi panduan tersebut perlu sesuai dengan topik dan manfaat yang disampaikan dalam promosi.

3. Mengumpulkan Informasi Calon Pelanggan

Ketika audiens tertarik dengan penawaran, bisnis dapat menyediakan langkah untuk mengidentifikasi mereka sebagai lead. Langkah ini bisa berupa pengisian formulir, pendaftaran, permintaan penawaran, atau tindakan lain yang sesuai dengan tujuan kampanye.

Informasi yang diminta sebaiknya relevan dengan kebutuhan bisnis. Untuk permintaan konsultasi awal, nama dan alamat email atau nomor kontak mungkin sudah memadai. Jika membutuhkan informasi tambahan, bisnis perlu mempertimbangkan apakah data tersebut memang diperlukan.

Formulir yang terlalu panjang dapat menambah hambatan bagi orang yang ingin mendaftar. Sebaliknya, formulir yang terlalu sederhana mungkin belum memberikan informasi yang cukup untuk menilai relevansi calon pelanggan. Bisnis perlu menyesuaikan jumlah pertanyaan dengan tujuan dan kompleksitas penawaran.

Jelaskan pula tujuan pengumpulan data dan tangani informasi yang diterima secara bertanggung jawab. Kejelasan ini membantu membangun kepercayaan sejak interaksi pertama.

4. Menindaklanjuti Leads yang Diperoleh

Setelah memperoleh lead, bisnis perlu menentukan tindak lanjut yang sesuai. Bentuknya dapat berupa mengirimkan materi yang dijanjikan, menjawab pertanyaan, memberikan informasi layanan, atau menghubungi calon pelanggan yang memang meminta komunikasi lanjutan.

Orang yang mengunduh panduan gratis belum tentu memiliki kebutuhan yang sama dengan orang yang secara langsung meminta penawaran. Keduanya menunjukkan ketertarikan, tetapi tingkat kesiapan dan kebutuhan tindak lanjutnya bisa berbeda.

Proses membangun hubungan dengan lead melalui komunikasi yang relevan dan bertahap dikenal sebagai lead nurturing. Dalam praktiknya, lead nurturing membantu bisnis memberikan informasi tambahan sebelum calon pelanggan mengambil keputusan, tanpa harus memaksa mereka segera membeli.

Ketika jumlah calon pelanggan bertambah, bisnis juga perlu mengelola informasi dan riwayat interaksi mereka dengan rapi. Penggunaan CRM dapat membantu tim mencatat data calon pelanggan, memantau komunikasi, dan mengatur tindak lanjut agar permintaan yang masuk tidak terlewat.

Lead generation dan lead nurturing saling berkaitan, tetapi memiliki fokus berbeda. Lead generation membantu memperoleh calon pelanggan, sedangkan lead nurturing berfokus pada pengembangan hubungan setelah ketertarikan teridentifikasi. Untuk memahami bagaimana leads dikelola dan ditindaklanjuti, kamu bisa membaca panduan Salesforce tentang pengelolaan leads.

Apa Saja Strategi Lead Generation dalam Digital Marketing?

Lead generation dapat diterapkan melalui berbagai kanal digital. Pemilihannya perlu mempertimbangkan karakter audiens, jenis penawaran, sumber daya bisnis, dan tindakan yang ingin dicapai.

SEO dan Content Marketing

SEO dan content marketing dapat membantu bisnis menjangkau orang yang sedang mencari informasi terkait kebutuhan atau masalah tertentu. Artikel, panduan, dan halaman layanan dapat menarik pengunjung melalui mesin pencari sekaligus memberikan konteks mengenai solusi yang ditawarkan.

Misalnya, calon pelanggan mencari informasi tentang cara meningkatkan visibilitas website. Artikel yang menjawab pertanyaan tersebut dapat memperkenalkan konsep SEO, menjelaskan langkah dasar yang relevan, lalu mengarahkan pembaca ke halaman layanan jika mereka membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Agar konten mendukung lead generation, bisnis perlu menghubungkan informasi yang diberikan dengan langkah berikutnya yang masuk akal. Ajakan tersebut bisa berupa melihat layanan, meminta konsultasi, atau mengakses materi tambahan yang relevan.

SEO dan content marketing tidak otomatis menghasilkan lead hanya karena artikel memperoleh traffic. Topik, relevansi pengunjung, kualitas konten, serta kejelasan jalur tindak lanjut tetap memengaruhi hasilnya.

Bagi bisnis yang ingin menjangkau calon pelanggan melalui mesin pencari, strategi SEO juga dapat diterapkan pada halaman layanan yang menargetkan kebutuhan dan lokasi tertentu. Misalnya, bisnis yang ingin meningkatkan visibilitas layanan di wilayah Yogyakarta dapat mempelajari penerapan Jasa SEO Jogja sebagai salah satu pendekatan untuk menjangkau audiens lokal yang relevan.

Media Sosial

Media sosial memungkinkan bisnis membangun perhatian dan interaksi dengan audiens melalui konten yang sesuai dengan karakter platform. Dalam digital marketing, metrik yang mengukur seberapa aktif audiens berinteraksi dengan suatu konten disebut engagement. Konten edukasi, demonstrasi produk, studi kasus, dan pembahasan masalah pelanggan dapat membantu memperkenalkan kebutuhan sekaligus menunjukkan bagaimana bisnis menawarkan solusi.

Namun, interaksi seperti suka, komentar, atau jumlah pengikut tidak selalu berarti bisnis telah memperoleh lead.

Agar aktivitas media sosial mendukung lead generation, bisnis perlu menyediakan langkah lanjutan yang relevan, seperti mengarahkan audiens ke formulir, halaman penawaran, atau kanal komunikasi yang sesuai.

Strategi ini perlu dijalankan secara konsisten dan disesuaikan dengan kebutuhan audiens. Perhatikan jenis konten yang paling relevan, respons audiens terhadap setiap unggahan, serta tindakan lanjutan yang ingin dicapai. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi sarana untuk membangun interaksi, tetapi juga dapat mendukung proses memperoleh calon pelanggan.

Iklan Digital

Iklan digital dapat digunakan untuk menjangkau audiens berdasarkan pengaturan penargetan yang tersedia pada platform. Bisnis dapat mengarahkan iklan ke halaman penawaran, formulir, atau mekanisme lain yang dirancang untuk memperoleh leads.

Salah satu kanal yang dapat digunakan adalah Google Ads, yang memungkinkan bisnis menampilkan iklan kepada audiens melalui berbagai kanal Google sesuai jenis kampanye dan pengaturan yang dipilih.

Misalnya, sebuah bisnis menawarkan konsultasi untuk membantu pemilik usaha mengevaluasi strategi pemasaran. Iklan dapat menampilkan masalah yang relevan dengan target audiens, menjelaskan manfaat konsultasi, lalu mengarahkan orang yang tertarik ke halaman pendaftaran.

Dalam strategi ini, jumlah klik bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Iklan yang memperoleh banyak klik belum tentu menghasilkan leads yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Karena itu, evaluasi perlu mencakup hasil setelah klik, seperti jumlah formulir yang berhasil dikirim dan relevansi calon pelanggan yang diperoleh.

Biaya kampanye juga perlu dibandingkan dengan hasilnya. Dengan begitu, bisnis tidak hanya menilai seberapa banyak orang melihat atau mengeklik iklan, tetapi juga apakah pengeluaran tersebut mendukung tujuan lead generation.

Email Marketing

Email marketing dapat digunakan untuk menindaklanjuti orang yang telah mendaftar, meminta informasi, atau memberikan izin yang sesuai untuk menerima komunikasi. Email bisa berisi materi yang dijanjikan, informasi tambahan, pembaruan layanan, atau penawaran yang relevan dengan kebutuhan penerima.

Sebagai contoh, seseorang mendaftar untuk mendapatkan panduan pemasaran digital. Setelah mengirimkan panduan tersebut, bisnis dapat memberikan informasi lanjutan yang masih berkaitan dengan topik tersebut, selama komunikasi dilakukan sesuai izin dan ketentuan yang berlaku.

Email marketing juga dapat mendukung lead nurturing dengan membantu calon pelanggan memahami pilihan yang tersedia sebelum mengambil keputusan. Namun, pesan yang dikirim sebaiknya memiliki tujuan yang jelas dan tidak terlalu sering sehingga mengganggu penerima.

Perlu dibedakan bahwa email marketing tidak selalu menjadi cara utama untuk mendapatkan lead baru. Dalam banyak kasus, email justru digunakan setelah seseorang memberikan informasi kontak melalui kanal lain.

Landing Page dan Lead Magnet

Landing page adalah halaman yang dirancang dengan tujuan tertentu, misalnya memperkenalkan penawaran, mengumpulkan pendaftaran, atau mendorong pengunjung meminta informasi. Halaman ini dapat menjadi bagian penting dari proses lead generation ketika pengunjung diarahkan dari artikel, media sosial, atau iklan.

Landing page yang baik menjelaskan penawaran secara jelas, menunjukkan manfaat yang relevan, dan menyediakan langkah berikutnya yang mudah dipahami. Jika halaman bertujuan memperoleh pendaftaran, formulir perlu terlihat dan tidak meminta informasi yang tidak diperlukan.

Sementara itu, lead magnet dapat menjadi alasan bagi audiens untuk mengambil tindakan tersebut. Bentuknya bisa berupa checklist, template, panduan praktis, atau undangan webinar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Misalnya, bisnis menawarkan template perencanaan konten melalui landing page. Pengunjung yang tertarik mengisi formulir untuk memperoleh template tersebut, lalu menjadi lead sesuai kriteria yang ditetapkan bisnis.

Meski begitu, keberadaan landing page dan lead magnet tidak menjamin hasil yang baik. Penawaran harus relevan, manfaatnya mudah dipahami, dan proses pendaftarannya tidak menimbulkan hambatan yang tidak perlu.

Contoh Penerapan Lead Generation dalam Digital Marketing

Bayangkan sebuah bisnis yang menyediakan layanan pengelolaan media sosial untuk usaha kecil dan menengah. Bisnis ini ingin menjangkau pemilik usaha yang kesulitan menjaga konsistensi konten atau belum memiliki strategi media sosial yang terarah.

Pertama, bisnis menerbitkan konten edukasi tentang cara menyusun kalender konten media sosial dan menjaga konsistensi unggahan. Konten tersebut dibagikan melalui media sosial dan dikembangkan menjadi artikel yang dapat ditemukan melalui mesin pencari.

Kedua, konten menawarkan langkah lanjutan yang relevan. Audiens dapat mengakses template kalender konten atau mempelajari layanan pengelolaan media sosial untuk memahami pilihan bantuan yang tersedia.

Ketiga, bisnis menyediakan formulir atau kanal komunikasi bagi orang yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut. Orang yang mengisi formulir atau meminta konsultasi dapat diidentifikasi sebagai lead sesuai kriteria yang ditentukan bisnis.

Keempat, bisnis menindaklanjuti permintaan tersebut dengan memberikan informasi yang sesuai. Jika calon pelanggan meminta penawaran layanan, misalnya, bisnis dapat menggali kebutuhan dan menjelaskan ruang lingkup layanan yang relevan.

Dari alur ini, bisnis dapat mengevaluasi hasil setiap tahap: jumlah pengunjung konten, jumlah orang yang mengakses penawaran, jumlah formulir yang dikirim, serta jumlah leads yang sesuai dengan layanan yang ditawarkan.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa lead generation bukan hanya tentang membuat konten atau menjalankan iklan. Strategi ini membutuhkan hubungan yang jelas antara audiens yang dijangkau, nilai yang diberikan, tindakan yang diminta, dan tindak lanjut setelah lead diperoleh.

Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan Lead Generation?

Keberhasilan lead generation sebaiknya dinilai berdasarkan tujuan kampanye dan kualitas calon pelanggan yang diperoleh. Jumlah leads dapat memberikan gambaran awal, tetapi belum cukup untuk menentukan apakah strategi yang dijalankan benar-benar mendukung kebutuhan bisnis.

Jumlah dan Kualitas Leads

Jumlah leads menunjukkan berapa banyak calon pelanggan yang berhasil diperoleh selama periode tertentu. Metrik ini dapat membantu bisnis membandingkan hasil kampanye atau kanal pemasaran, selama kriteria lead dan periode pengukurannya konsisten.

Namun, jumlah yang besar tidak otomatis berarti hasilnya lebih baik. Sebuah kampanye mungkin menghasilkan banyak pendaftar, tetapi sebagian besar tidak sesuai dengan target pelanggan. Kampanye lain bisa menghasilkan lebih sedikit leads, tetapi memiliki relevansi yang lebih tinggi dengan produk atau layanan yang ditawarkan.

Karena itu, bisnis juga perlu menilai kualitas leads berdasarkan kesesuaian kebutuhan, karakteristik calon pelanggan, jenis permintaan yang masuk, atau indikator lain yang relevan dengan model bisnis.

Conversion Rate

Conversion rate menunjukkan persentase orang yang melakukan tindakan tertentu dibandingkan dengan jumlah orang yang menjadi dasar pengukuran. Dalam lead generation, metrik ini dapat digunakan untuk menilai seberapa banyak pengunjung halaman yang menyelesaikan tindakan yang ditargetkan, misalnya mengirimkan formulir.

Rumus sederhananya:

Sebagai contoh, sebuah landing page memperoleh 500 pengunjung dan menghasilkan 25 pengiriman formulir. Jika pengunjung tersebut menjadi dasar pengukuran, conversion rate halaman itu adalah 5%.

Angka tersebut membantu bisnis memahami respons terhadap halaman atau penawaran yang digunakan. Namun, conversion rate perlu dibaca bersama metrik lain karena tingkat konversi yang tinggi belum tentu menunjukkan hasil yang optimal jika leads yang diperoleh tidak sesuai dengan target bisnis.

Cost per Lead (CPL)

Cost per Lead atau CPL adalah biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk memperoleh satu lead. Metrik ini berguna ketika bisnis ingin menilai efisiensi biaya dari kampanye pemasaran yang menghasilkan calon pelanggan.

Rumusnya:

Misalnya, sebuah kampanye menghabiskan Rp2.000.000 dan menghasilkan 40 leads. CPL kampanye tersebut adalah Rp50.000 per lead.

Perhitungan ini perlu menggunakan cakupan biaya dan jumlah leads yang konsisten. Jika biaya yang dihitung hanya biaya iklan, hasilnya perlu dipahami sebagai CPL berdasarkan biaya iklan, bukan keseluruhan biaya pemasaran.

CPL yang rendah juga tidak otomatis berarti kampanye lebih baik. Bisnis perlu mempertimbangkan kualitas leads dan relevansinya terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Lead Generation

Lead generation dapat kurang efektif ketika bisnis terlalu berfokus pada jumlah calon pelanggan tanpa memperhatikan relevansi, pengalaman audiens, dan proses tindak lanjut. Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari.

Mengejar jumlah leads tanpa menilai kualitasnya. Banyaknya formulir yang masuk belum tentu menunjukkan bahwa bisnis berhasil menjangkau calon pelanggan yang tepat. Tetapkan kriteria lead yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan evaluasi relevansinya secara berkala.

Menawarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan audiens. Materi gratis atau penawaran yang menarik perhatian belum tentu mendatangkan calon pelanggan yang relevan. Pastikan topik, manfaat, dan sasaran penawaran memiliki hubungan dengan produk atau layanan yang ingin dipasarkan.

Membuat langkah pendaftaran terlalu rumit. Formulir yang panjang, instruksi yang tidak jelas, atau halaman yang sulit digunakan dapat membuat calon pelanggan membatalkan proses. Minta informasi yang memang dibutuhkan dan jelaskan langkah berikutnya secara sederhana.

Tidak menyediakan tindak lanjut yang jelas. Leads yang sudah diperoleh bisa kehilangan minat jika permintaan mereka tidak ditangani dengan baik. Tentukan bagaimana bisnis akan merespons pendaftaran, pertanyaan, atau permintaan penawaran, serta pastikan komunikasi sesuai dengan konteks interaksi sebelumnya.

Mengukur keberhasilan hanya dari klik atau traffic. Klik dan kunjungan dapat membantu menjelaskan performa awal kampanye, tetapi tidak menggambarkan keseluruhan hasil lead generation. Perhatikan juga jumlah leads, kualitasnya, dan tindakan lanjutan yang relevan dengan tujuan bisnis.

FAQ Seputar Lead Generation

Apa Perbedaan Lead Generation dan Lead Nurturing?

Lead generation adalah proses menarik orang yang berpotensi menjadi pelanggan dan mendorong mereka menunjukkan ketertarikan agar dapat diidentifikasi sebagai lead. Sementara itu, lead nurturing merupakan proses membangun dan mengembangkan hubungan dengan lead melalui komunikasi atau informasi yang relevan.

Keduanya saling melengkapi. Lead generation membantu bisnis memperoleh calon pelanggan, sedangkan lead nurturing membantu mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan sebelum memutuskan apakah akan menggunakan produk atau layanan.

Apa Contoh Lead Generation?

Contoh lead generation adalah bisnis yang menerbitkan artikel edukasi, lalu mengarahkan pengunjung ke halaman konsultasi. Ketika seseorang mengisi formulir untuk meminta informasi layanan, bisnis memperoleh lead yang dapat ditindaklanjuti. Contoh lainnya adalah pendaftaran webinar, pengunduhan panduan melalui formulir, permintaan penawaran dari halaman layanan, atau pengisian formulir yang terhubung dengan kampanye iklan digital.

Apakah Lead Generation Hanya Menggunakan Iklan Berbayar?

Tidak. Lead generation dapat dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk SEO, content marketing, media sosial, email marketing, dan iklan digital. Bisnis dapat memilih satu atau beberapa kanal berdasarkan target audiens, jenis penawaran, serta sumber daya yang tersedia.

Iklan berbayar dapat membantu memperluas jangkauan atau mendatangkan pengunjung ke halaman penawaran, tetapi keberhasilan lead generation tetap bergantung pada relevansi audiens, kualitas penawaran, kemudahan proses, dan tindak lanjut yang dilakukan.

Terapkan Lead Generation dalam Strategi Digital Marketing

Lead generation membantu bisnis menghubungkan aktivitas pemasaran dengan peluang memperoleh calon pelanggan. Prosesnya dimulai dengan menjangkau audiens yang relevan, menawarkan informasi atau manfaat yang sesuai, menyediakan langkah untuk menunjukkan ketertarikan, lalu menindaklanjuti leads yang diperoleh.

Penerapannya tidak harus selalu dimulai dari kampanye iklan yang besar. Bisnis dapat mengevaluasi kanal yang sudah digunakan, memahami kebutuhan audiens, dan menentukan langkah sederhana yang memungkinkan orang yang tertarik melanjutkan interaksi. Setelah itu, hasilnya dapat diukur berdasarkan jumlah leads, kualitas calon pelanggan, conversion rate, dan biaya per lead jika metrik tersebut relevan.

Jika media sosial menjadi salah satu kanal utama untuk menjangkau calon pelanggan, pengelolaan konten dan strategi komunikasi yang konsisten dapat membantu mendukung proses tersebut. Kamu bisa mempelajari layanan Jasa Kelola Sosial Media dari Digibos untuk melihat pilihan pengelolaan media sosial yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Sementara itu, jika kamu ingin memperdalam pemahaman tentang penerapan pemasaran digital secara lebih terstruktur, Mini Bootcamp Digital Marketing dapat menjadi pilihan untuk dipelajari lebih lanjut.

Pada akhirnya, lead generation bukan sekadar mengumpulkan data kontak. Strategi ini perlu membantu bisnis menemukan calon pelanggan yang relevan, memberikan nilai sejak interaksi pertama, dan menyediakan langkah lanjutan yang jelas tanpa mengabaikan kebutuhan audiens.

Topik Terkait:
Content Creator

Khairil Fajrin

SEO & Web Content Writer | Creative Writer Turning research, ideas, and words into content people can find, read, and remember. Writing for web, storytelling, and songwriting since 2022.

Mini Bootcamp SEO Era AI

Pendaftaran yang dibuka

Daftar Sekarang